Sunday, February 24, 2013

Pemanfaatan Green Technology - Kesadaran Publik serta Pengaplikasian di Indonesia


Sebagian besar pencemaran lingkungan di planet bumi ini disebabkan oleh kemajuan teknologi. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan di bidang teknologi dan industri memicu emisi yang berlebihan. Teknologi memang memudahkan kita dalam segala unit kegiatan sosial. Terlebih lagi di era serba canggih seperti sekarang, kemajuan teknologi seakan dipuja bagi para kaum kapitalis karena dapat meningkatkan efisiensi kerja di segala bidang.

Namun sebenarnya apa yang disebut dengan teknologi ? Seringkali kita mengasumsikan teknologi sebagai peralatan canggih yang menggunakan mesin. Rupanya yang dinamakan teknologi tidak hanya sebatas itu pengertiannya. Teknologi meliputi segala bentuk hal sarana penyediaan barang-barang yang dibutuhkan manusia dalam rangka mempermudah kegiatan hidupnya. Jadi, meskipun sekarang ini sudah banyak kendaraan bermotor, penggunaan gerobak untuk berjualan sekalipun sudah bisa dimasukkan dalam kategori teknologi.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, ketika teknologi sudah mencemari lingkungan dengan segala bentuk aplikasinya, perlu dipikirkan kembali cara-cara agar kita tetap dapat menggunakan teknologi yang memudahkan kita, namun juga tidak secara ekstrem merusak lingkungan. 

Sebagai contoh dari sebuah teknologi sepeda motor, efisiensi manusia dalam menempuh perjalanan dapat ditingkatkan. Namun dalam satu kasus sepeda motor ini saja, sudah banyak pencemaran lingkungan yang ditimbulkan. Mulai dari proses pembuatannya di pabrik, yang tentunya memunculkan limbah pabrik. Limbah pabrik ini dapat berupa limbah yang mencemari perairan, maupun yang mencemari udara. Ketika proses pembuatan sudah selesai, sepeda motor pun didistribusikan ke berbagai wilayah, yang tentu saja menggunakan 'teknologi' pula dalam pengefisiensiannya. Ketika sudah digunakan oleh konsumen, penggunaan dalam repetisi tinggi turut mencemari lingkungan dengan asap buangan dari knalpot. Selain itu, tingginya intensitas pemakaian tentunya juga membutuhkan bahan bakar dalam jumlah banyak. Penggunaan bahan bakar berlebihan tentunya akan mengakibatkan kelangkaan bahan bakar, karena yang seperti kita tahu, bahan bakar minyak adalah sumber daya yang tidak dapat diperbarui.

Dari satu contoh kasus seperti di atas saja, kerusakan alam sudah dapat dikatakan sebagai suatu hal yang patut kita prihatinkan. Untuk itulah kita harus dapat meminimalisir kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh teknologi, tanpa harus kehilangan manfaat dari teknologi itu sendiri. Salah satu caranya adalah perencanaan dan penggunaan Green Technology, atau Teknologi Ramah Lingkungan.



Sekarang ini, sudah banyak masyarakat yang sangat peduli akan lingkungan yang mereka tempati. Bahkan para investor berbondong-bondong mengedepankan konsep Green ini dalam komoditas mereka. Pengusaha asing bahkan mencari bangunan-bangunan yang telah mendapatkan sertifikat hijau dan ramah lingkungan. Kesadaran yang tinggi akan kebutuhan konsep Green ini membuat para pengusaha di Indonesia pun mengembangkan bisnis properti yang bernuansa hijau. Tak tanggung-tanggung, pemerintah pun siap mengucurkan dana bagi pengembangan Green Building ini. Bahkan Indonesia siap untuk mendatangkan ahli Green Building ini dari Singapura.



Dari bidang transportasi, kini juga telah bermunculan inovasi-inovasi baru dalam pengembangan Green Transportation. Mengingat bahwa gas buang transportasi adalah penyumbang terbesar bagi polusi udara di perkotaan, PBB bahkan telah mengatur ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor di seluruh negara anggota. Menyikapi hal itu, tentunya Kementerian Lingkungan Hidup juga mengeluarkan peraturan menyangkut pemeliharaan lingkungan ini dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 141 tahun 2003. Peraturan ini mulai berlaku rigid sejak tahun 2005. Dengan berbagai kebijakan ini, pengusaha di bidang otomotif tentunya juga berlomba-lomba menciptakan kendaraan ramah lingkungan. Yang terbaru ini, telah muncul kendaraan yang bersifat Hybrid. Kendaraan Hybrid ini merupakan kendaraan dengan berbahan bakar ganda, bahan bakar minyak, serta listrik. Kemunculan kendaraan Hybrid ini tentu lebih hemat energi dan rendah emisi. Selain itu, berbagai percobaan bahan bakar alternatif telah dikembangkan, seperti BBG, Biodiesel, serta Bioetanol.



Di bidang sumber energi listrik, salah satu kreator peranti telekomunikasi inovatif di Indonesia telah mengembangkan Menara Telekomunikasi ( Base Transceiver Station ) yang menggunakan tenaga angin sebagai sumber listriknya. Penggunaan turbin angin ini telah berhasil menghemat hingga 70% dibandingkan dengan penggunaan genset. Tentu saja penggunaan energi angin ini sungguh sangat menguntungkan jika dilihat dari sisi ekonomis. Tenaga angin sangat melimpah di Indonesia yang memiliki banyak sekali pantai, dan tentunya gratis. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat teknologi jenis ini pun sangat murah jika dibandingkan keuntungan ke depannya. Untuk harga turbin sekitar 12-20 juta rupiah untuk 100 watt, belum dihitung baterainya. Biaya untuk satu Base Transceiver Station kira-kira sekitar 50-100 juta rupiah. Terlihat mahal memang, tapi nilai sedemikian rupa tidak sebanding dengan penghematan yang dapat dilakukan dalam jangka panjang.



Teknologi Internet pun berkembang dengan mengedepankan konsep ramah lingkungan. Berbagai hal telah dilakukan pengembang IT di berbagai belahan dunia, seperti munculnya fitur Power Management seperti yang sudah diterapkan pada Linux dan Windows. Berbagai cara pun dapat kita lakukan untuk melindungi bumi dari kerusakan, dengan gerakan Go Green di bidang IT ini. Seperti contohnya :
  • Mematikan Printer, Monitor, Speaker, atau peralatan lainnya ketika tidak dipakai. 
  • Cabut power strips TV dan DVD player ketika tidak dipakai dalam waktu panjang.
  • Perkecil tingkat Brightness layar monitor. Selain menghemat tenaga, hal ini juga akan melindungi mata kita dari kerusakan akibat terlampau sering menatap layar komputer.
  • Belilah produk elektronik yang memiliki logo Energy Star. Karena barang berlogo seperti ini telah mendapatkan sertifikat ramah lingkungan.
  • Belilah barang bergaransi. Apabila barang elektronik tersebut rusak, kita dapat mengembalikannya ke pabrik bersangkutan. Dengan begitu kita tidak akan membuang sampah elektronik sembarangan, yang dapat merusak lingkungan.

Berbagai gerakan Go Green via Teknologi sudah banyak diterapkan masyarakat di seluruh dunia. hal ini tak lepas juga dari tingkat kesadaran masyarakat kita yang turut meningkat. Bahkan pendidikan lingkungan hidup telah diajarkan pada anak usia dini. Di berbagai Sekolah Dasar pun sudah banyak dilaksanakan kegiatan cinta lingkungan seperti menanam pohon, serta pembuatan Biopori. Teknologi Biopori ini yang cukup inovatif, karena dengan membuat lubang pada tanah, air hujan akan terserap lebih mudah ke dalam tanah. Selain memelihara tanah, hal ini juga berdampak baik pada pemanfaatan air.

Tidak hanya sampai situ saja, masyarakat pun menekan ke perusahaan-perusahaan agar mengedepankan konsep ramah lingkungan di dalam usaha mereka. Kesadaran peduli lingkungan seperti ini tentunya harus mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah sebagai pelaksana sentral dari pembangunan. Masalah pendanaan mungkin memang dirasakan sangat besar, dari mulai pendatangan ahli, biaya teknologi, serta perawatan jangka panjang. Namun sebenarnya teknologi ramah lingkungan sangat tepat jika diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia ini. Tidak hanya karena sudah banyaknya tenaga ahli putra bangsa yang mumpuni dalam penggarapan teknologi ini, namun juga efek baik jangka panjangnya yang nantinya turut mengantarkan Indonesia menjadi negara yang lebih sejahtera.


Banyak sekali pemanfaatan dan inovasi teknologi ramah lingkungan yang dapat diterapkan di Indonesia dalam rangka memelihara lingkungan hidup kita. Seperti yang telah disebutkan di atas tentang penggunaan tenaga listrik yang bersumber dari angin. Selain itu, kita juga dapat mulai menerapkan teknologi yang saat ini sudah diterapkan di beberapa negara bagian di Amerika mengenai penggunaan air keran siap minum. Mungkin memang terlihat sepele, namun penggunaan air keran yang dapat langsung diminum akan berdampak pada penghematan air yang signifikan. Mulai dari penghematan memasak air, yang berarti menghemat bahan bakar untuk kompor, menghemat biaya pembelian air mineral, serta mengurangi sampah plastik dari botol air mineral.

Secara pribadi, penulis mengusulkan teknologi air keran yang siap diminum ini sebagai salah satu teknologi ramah lingkungan. Mungkin pada awalnya rasa air minum ini akan dirasakan tidak senikmat air minum yang biasa kita minum, namun pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dalam rangka memperbaiki kualitas air ini. Penerapan tidak perlu langsung secara nasional, namun dapat diterapkan per daerah terlebih dahulu seperti halnya Amerika Serikat, tentunya bekerjasama dengan PDAM daerah bersangkutan. Penulis yakin, apabila teknologi ini dapat diterapkan, akan menimbulkan efek positif bagi kelestarian lingkungan.

Di samping pemanfaatan air keran, penulis mengharapkan adanya inovasi-inovasi baru dalam pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat. Karena manfaat dari Green technology ini tidak hanya untuk memperbaiki kualitas hidup kita, namun juga berdampak baik bagi ekonomi masyarakat. Semoga teknologi ramah lingkungan semakin berkembang baik, dan dapat menghantarkan Indonesia dan dunia menjadi tempat hidup yang lebih baik lagi.


Riska Darmakumara
Mahasiswa Ilmu Filsafat Universitas Indonesia angkatan 2011

Sumber gambar :
  1. http://1.bp.blogspot.com
  2. http://www.gstriatum.com/solarenergy
  3. http://gilmourbiology.wikispaces.com
  4. http://khanzaku.files.wordpress.com
  5. http://www.dmzcube.com
  6. http://ariick.student.umm.ac.id
  7. http://lapar.com